logo

PERANG KEMBANG

PERANG KEMBANG



                                       



Perang Kembang



     Perang kembang adalah adegan peperangan antara bambangan ( Janaka, Lesmana, Abimanyu, dll. ) dengan raksasa ( buta cakil, buta babrah ). Biasanya perang kembang dilakukan pada saat suasana laras pathet Sanga, setelah Goro - goro, yaitu setelah adegan Punakawan Semar , Gareng ,Petruk, dan Bagong. Atau bila tidak setelah adegan di pertapan.



     Perang Kembang sendiri tidak semata - mata hanya adegan perang yang dahsyat, namun juga merupakan penggambaran kehidupan manusia. Dalam pertunjukkan wayang kulit / pagelaran wayang kulit, dibagi menjadi suasana tiga bagian, dan yang membagi adalah Laras / Pathet. Yakni

1. Pathet Nem ( Jejer, Limbukan, Perang Gagal ) dan,

2. Pathet Sanga ( Goro - goro , Adegan Pertapan, Perang Kembang ) serta,

3. Pathet Manyura ( pada saat bagian pathet ini biasanya penyelesaian masalah/kerampungan      masalah).



Nah saya akan menjelaskan, bahwa, Adegan Pagelaran Wayang Kulit dibagi menjadi tiga Pathet / Laras ,karena secara mendalam mempunyai Filsafat. Filsafat jawa, Kehidupan manusia dibagi menjadi tiga ( 3 ) yakni,

- Lahir, hidup dan mati

- Bayi, dewasa dan tua



     Pada pagelaran wayang saat laras pathet Nem,  disinilah cerita dimulai, secara filsafat dalam adegan lahir serta timbulnya masalah kehidupan . Banyak cara yang dilakukan, banyak masalah yang terjadi. Maka tidak heran suasana di Pathet Nem dalam pagelaran wayang terjadi adegan peperangan.



    Pada saat laras Pathet Sanga,  secara filsafat merupakan kemampuan diri dalam mengendalikan hawa nafsu. Proses pendewasaan diri dapat terlaksana apapila dapat mengendalikan emosi, hawa nafsu, dan selalu bersabar. Maka dalam adegan Perang kembang digambarkan Janaka ( atau bambangan lainya seperti Abimanyu, dll.)  sebagai objek manusia itu sendiri, dan raksasa / buta sebagai gambaran hawa nafsu dan emosi yang harus dikalahkan oleh Raden Janaka. Secara otomatis bila raksasa dapat dikalahkan/ dimusnahkan Raden Janaka dapat melajutkan perjalanan kembali dalam rangka menyelesaikan masalah yang terjadi.



    Adegan pathet Manyura, secara filsafat ini adalah matang dan memuncaknya masalah. Kedewasaan telah dapat digenggam maka segalanya menjadi mudah, karena  selalu tenang dan mantab  maka solusi terpecahkan dan dapat merampungkan masalah.



   Pendewasaan diri memang penting, namun proses dan niat manusia sendirilah yang dapat menentukan kemana arah kehidupan ini dan kemampuan membedakan antara yang baik dan buruk.

Kita semua sedang melakukan Perang Kembang ( Perang Bunga ). Semoga kita seperti Janaka yang mampu menahan hawa nafsu, dan selalu bersabar, sehingga dapat menyelesaikan dan menghadapi masalah yang ada.






Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact