logo

Budaya Ruwatan

Budaya Ruwatan

Budaya Ruwatan


Bagi seniman dan seniwati tentunya kata dan kegiatan ruwatan tidak asing lagi. Seniman diperkotaan dan seniman pedesaan semua pasti tahu akan acara sakral ini.

Didalam masyarakat pedesaan dan perkotaan pun masih ada yang percaya dan meyakini acara ruwatan ini.

Acara ini biasanya dilakukan sebelum atau sesudah pagelaran wayang kulit dalam acara bersih desa atau pun dalam acara pernikahan. 

Konon dengan mengadakan acara ruwatan, akan menghilangkan "sukerta" atau dalam bahasa Indonesia menyingkirkan yang jelek-jelek atau menjauhkan kita dari nasib sial dan melindungi kita dari mahluk halus.

Masih banyak masyarakat yang meyakini dan mempercayai upacara adat ini. Namun semua kembali kepada pribadi masing-masing, karena kepercayaan di Negara Indonesia ini sangatlah kompleks.

Didalam acara ruwatan biasanya yang melakukan adalah seorang dalang yang memang merupakan keturunan dari dalang. 

Berawal dari ayah, Kakek, ayah Kakek dan Kakek buyutnya yang memang berprofesi menjadi dalang.

Hal inilah yang sering menjadikan acara ruwatan sangat sakral, bukan hanya upacaranya bahkan pengruwat merupakan keturunan dari dalang dan secara turun-temurun mewarisi akan kidungan ruwatan yang sering dibacakan ketika acara ruwatan.

Cerita didalam ruwatan adalah ketika Bethara Kala yang tanpa sengaja memakan pohon namun tanpa disadarinya dipohon itu terdapat manusia yang ikut menjadi makanannya. 

Bethara Kala pun merasakan kenikmatan yang luar biasa karena memakan daging manusia dan akhirnya dia naik keatas khayangan dan meminta ganti makanan berupa manusia yang masih bernyawa.

Mendengar hal ini dewa yakni bethara Guru tidak mengijinkan namun bethara Kala tetap bersikukuh akan keinginannya. 

Karena merasa terpojok akhirnya Bethara Guru mengijinkan Bethara Kala melakukan keinginannya, namun dengan syarat dia boleh memakan manusia yang kotor, jahat, dan banyak dosa, selain itu dia harus menyerahkan kedua taringnya untuk dijadikan senjata ampuh para Dewa. 

Hampir saja bethara Kala tidak mau, dia berfikir kalau taringnya diberikan kepada dewa lantas bagaimana dia akan memakan manusia, dengan ditukar sebilah pedang akhirnya Bethara Kala merelakan taringnya dan pergi ke Bumi untuk mencari mangsa.

Sebelumnya Bethara Kala telah dipesan oleh Bethara Guru bahwa hanya seorang dalang sejatilah yang sanggup mengalahkan Bethara Kala dan menggagalkan keinginannya. 

Ketika Mendapat mangsa Bethara Kala gagal karena dia mendapat mangsa yang merupakan jelmaan dari Bethara Bayu. 

Sampai akhirnya dia bertemu dengan Dalang Sejati dia kalah karena sang Dalang dapat membacakan kidungan Ruwatan. 

Sang Dalang sendiri merupakan jelmaan dari Bethara Wisnu yang diperintahkan oleh Bethara Guru guna menghalau  keinginan Bethara Kala.

Sebagian masyarakat mempercayai bahwa bila kita kotor atau suker maka akan menjadi makanan dari Bethara Kala, maka dari itu yang dapat membebaskan dari kesialan hanyalah dalang sejati yang membacakan Kidung Ruwatan.

Kesimpulan akan kegiatan dan upacara Ruwatan merupakan kebudayaan Jawa turun temurun. 

Dapat dibilang kegiatan ini merupakan suatu sugesti akan kepercayaan didalam hati, namun hendaknya manusia memang harus sadar bahwa semua adalah tergantung dari perbuatan dan usaha terutama ridho dari Tuhan.

Budaya Jawa memang kompleks dan mempunyai hikmah dan makna yang banyak bisa kita ambil, hal positif maupun Negatif. Akan tetapi harus berhati-hati, bila tidak akan masuk dalam kesesatan.

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact