logo

Cerita Lakon Sesaji Rajasuya

Cerita Lakon Sesaji Rajasuya

Lakon Cerita Sesaji Rajasuya

Di Negara Dwarawati, Prabu Sri Bathara Kresna menerima kehadiran Kakandanya Prabu Baladewa. Datangnya Prabu Baladewa karena mendapat undangan dari Prabu Kresna sendiri, karena Para Pandawa akan mengadakan acara yakni Sesaji Rajasuya, yang mengundang 100 raja dari negara - negara kerabat Pandawa. 

Namun ketika akan berangkat ke Negara Amarta, Prabu Kresna mendapat tamu yaitu Prabu Dimboko, utusan dari Negara Giribraja yang diutus oleh Raja Jarasanda. Keperluan Dimboko yaitu membawa surat dari Jarasanda. Isi dari surat itu adalah Jarasanda meminta agar Negara Dwarawati, negara Mandira dan negara Amarta menyerah dan bertekuk lutut terhadap Jarasanda. Mengetahui isi surat tersebut Kresna terkejut, Prabu Baladewa pun tidak tinggal diam dan segera menantang Dimboko dan menendangnya keluar.

Terjadilah perang antara Dimboko dan kakaknya Hamso melawan Prabu Baladewa, akan tetapi naas, Hamso dapat dibunuh dan sirna oleh Prabu Baladewa. Kresna dan Baladewa pun segera menuju negara Amarta.

Sampailah Kresna dan Baladewa di Negara Amarta, Kresna mengatakan kepada Pandawa, sebelum mengadakan sesaji, Kresna ingin mengajak Werkudara dan Janaka ke Negara Giribraja guna untuk menumpas Jarasanda. Jarasanda telah memenjarakan ratu berjumlah 97, yang akan dikorbankan dalam upacara Sesaji Lodra. Mendengar hal itu Werkudara dan Janaka segera menyanggupi, dan akhirnya mereka berangkat menuju ke Negara Giribraja.

Sesampainya di tepis wiring Negara Giribrojo Prabu Kresna, Werkudara dan Janaka berhenti. Bertanya-tanya Werkudara dan Janaka, Kresna segera menjelaskan alasannya yakni di atas gunung terdapat Tambur yang akan berbunyi sendiri, dikarenakan kulit Tambur tersebut dari kulit ayah dari Jarasanda yaitu Prabu Briadata, yang dibunuh dan dikuliti oleh Jarasanda sendiri. Atas perintah Kresna , Janaka segera memanah Tambur tersebut. Dengan bedahnya Tambur tersebut bersamaan dengan bebasnya Arwah Prabu Briadata. 

Kresna, Werkudara dan Janaka segera melanjutkan perjalanan dengan menyamar sebagai Pendiri. Walaupun Jarasanda terkenal kejam, namun dia sangat menghormati Seorang Pendita.

Dengan mudahnya Kresna, Werkudara dan Janaka dapat memasuki kerajaan tanpa dicurigai. Melihat datangnya para Pendita tersebut Jarasanda menyalahkan masuk. Dan sangat kebetulan dengan datangnya Pendita tersebut Jarasanda bertanya dengan mimpinya kepada Para Pandita yang telah datang bertamu. To be continue.....


Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact