logo

Tradisi Ceprotan, Upacara Adat Bersih Desa Khas Pacitan

Tradisi Ceprotan, Upacara Adat Bersih Desa Khas Pacitan

Ceprotan merupakan tradisi Bersih Desa yang wajib digelar tiap Hari Senin Kliwon, Bulan Longkang atau Selo kalender Jawa. Tujuannya, untuk menyingkirkan marabahaya dari segenap penjuru desa. Tak sekali pun warga berani melewatkan. Tradisi ini dipercaya jika tidak dilakukan dapat mendatangkan bala seperti banyak orang sakit, menanam tidak jadi. Sehingga sampai kapan pun tetap diadakan tradisi adat Ceprotan tutur Iman Tukidjo salah satu masyarakat di sela persiapan upacara.

Rangkaian seremoni sakral Ceprotan, dimulai dari pengumpulan ayam dari beberapa warga. Upacara dipimpin oleh kepala desa dan melibatkan kepala dusun. Puncak acara Ceprotan berlangsung pada sore hari di mana matahari mulai terbenam, diawali dengan tarian surup atau "Terbenamnya Matahari" kemudian juru kunci membacakan doa, serta lurah desa merepresentasikan diri sebagai perwujudan Ki Godeg, sedangkan Istrinya sebagai Dewi Sekartaji. Seperti halnya beberapa tradisi lain di Tanah Jawa, kelahiran upacara adat Ceprotan juga menampilkan tokoh Panji. Latar belakang kisah ini adalah runtuhnya Kerajaan Kediri yang terbagi menjadi dua kerajaan kecil. Yakni Jenggolo dan Doho. Konon, romantika sepasang anak manusia dari lingkungan kerajaan turut menjadi korban perpecahan. Jalinan asmara antara Raden Panji Wanengpati dan Dewi Sekartaji tercerai berai. Keduanya terpaksa lari dari istana untuk menyelamatkan diri. Selama puluhan tahun, terus saling mencari satu sama lain. Akhirnya, mereka pun bertemu di sebuah tempat yang menjadi cikal bakal bedirinya Desa Sekar. "Dewi Sekartaji menyamar menjadi Brambang Bawang.

Sedangkan Raden Panji Wanengpati menjadi Kyai Godheg. Pada saat Raden Panji babat hutan disini ketemu dengan Dewi Sekartaji. Kata Sekar sendiri diambil dari nama Dewi Sekartaji," terang pria dengan rambut panjang tersebut. Kepulan asap dupa mulai berpadu dengan temaram senja yang beranjak petang. Semerbak bau kemenyan menyeruak semakin menambah suasana magis. Di panggung kecil berukuran 2x2 meter berpagar janur dan daun beringin, juru kunci menghadap tungku tempat dupa. Mulutnya komat-kamit membaca mantera. Ini adalah ritual awal dimulainya Ceprotan. Beberapa saat kemudian, sekelompok orang dengan pakaian khas Jawa membawa tandu setinggi 2 meter. Di dalamnya terdapat sesaji yang terdiri beragam jenis makanan. Mulai dari ketan yang ditanak dan dipadatkan bernama Jadah, ayam panggang, hingga aneka penganan lainnya Berada di garda depan Iman Tukidjo yang memerankan Kyai Godeg dan sang istri Dewi Sekartaji yang diperankan Sri Gianti, istri Iman Tukidjo. Dengan gerakan serba tertata seirama suara gamelan, keduanya mengantar sesaji hingga ke depan gapura yang terbentuk dari janur kuning.

"Ritual yang kami peragakan ini mencerminkan perjalanan Kyai Godeg bersama Dewi Sekartaji saat memulai kehidupan hari tua sebagai guru," ujar Iman Tukidjo bersemangat. Seperti tergambar dalam prosesi, dua ekor ayam dimasak panggang yang sebelumnya berada di dalam tandu akhirnya dibawa oleh dua orang yang berlarian ditengah halaman. Sedangkan ratusan warga yang berada sisi kanan kiri halaman saling berebut melemparnya dengan kelapa muda. "Siapa yang berani merebut panggang maka akan diceprot (lempar, red) dengan kelapa. Itu menggambarkan para murid Kyai Godheg yang berebut saat makan.

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact