Home » » GUGURNYA SANG BHISMA

GUGURNYA SANG BHISMA

Segala bentuk kegembiraan terpancar pada setiap wajah yang hadir pada sidang yang digelar di pesanggrahan Bulupitu. Malam setelah tewasnya senapati Pendawa, Resi Seta. Prabu Duryudana dengan senyum sumringah duduk pada kursi dampar kebesaran yang direka persis bagaikan dampar yang ada di balairung istana Astina.
“Eyang Resi, kemenangan lasykar Kurawa sudah diambang pintu! “ Dada Prabu Duryudana membuncah penuh dengan rasa pengharapan besar bahwa saat kemenangan akan segera datang.
Lanjutnya “ Tidak percuma perang yang melelahkan selama tigabelas hari telah berlangsung. Ditangan senapati seperti Eyang Bisma, tiada satupun prajurit Pendawa yang akan dapat menandingi kesaktian paduka, Eyang!”
“Tidaklah berlaku, wangsit Dewata yang sebelumnya mengatakan, bahwa siapapun yang mendapat perlindungan dari Prabu Kresna akan jaya dalam perang. Pada kenyataannya siapa yang dapat menandingi tokoh sepuh sakti mandraguna  seperti Eyang Bisma?!!” berkata lantang Prabu Duryudana, dengan mulut penuh dalam jamuan yang diselenggarakan malam itu menyambut kemenangan.
Demikan pula raja seberang sekutu Kurawa seperti Prabu Gardapati dari Negeri Kasapta dan Wersaya dari Negara Windya yang sudah datang saat perang dimulai serta, Prabu Bogadenta yang  juga datang menyusul dari Turilaya  serta semua yang hadir sepakat, bahwa perang segera berakhir dengan kemenangan ditangan.
Setelah menghela nafas panjang, dengan sareh Sang Jahnawi Suta menyahut
“Ngger Cucu Prabu, jangan merasa sudah tak ada lagi rintangan yang harus dilalui. Walaupun banyak orang menganggap, kalau aku sebagai manusia sakti tanpa tanding, tetapi ada pepatah mengatakan, diatas langit masih ada langit. Jalan didepan kita masih panjang. Angger tahu, kekuatan Pandawa ada dipundak kedua saudaramu yang juga musuhmu, Werkudara dan Arjuna. Bila angger sudah dapat mengatasinya, barulah kekuatan Pandawa akan berkurang dengan nyata!!.”
“Apalagi, dibelakang mereka ada berdiri Prabu Kresna, seorang penjelmaan Wisnu yang sungguh waskita dalam memberikan pemecahan berbagai masalah. Jadi tetaplah waspada!!”
Sidang malam itu menetapkan, mereka akan menggelar formasi perang Garuda Nglayang di esok hari, barisan mengembang dengan kedua sayap dihuni Prabu Salya di sayap kiri, Resi Bisma di sayap kanan. Harya Suman pada kepala serta Pandita Durna yang sudah terbebas dari ancaman Resi Seta menjadi paruh serangan.
Sementara pada anggota badan Garuda, terdapat Prabu Duryudana diapit dan dilindungi oleh para raja telukan, dibelakangnya Harya Dursasana siap pada daerah pertahanan untuk menghalau para prajurit musuh yang dapat diperkirakan menyusup kedalam.

Rencana telah ditetapkan ketika sidang berakhir. Malam itu Prabu Duryudana tidur mendengkur dengan nyenyaknya, seiring dengan kepuasan hati dan kenyangnya perut. Mimpi indahlah Prabu Duryudana bertemu istrinya yang molek jelita, Dewi Banuwati, yang segera dipondongnya keatas tilam rum.

***
Malam bertambah larut, dalam malam tak ada yang dapat diceritakan selain sinar rembulan yang tengah purnama menerangi jagat raya. Sinarnya yang temaram mampu membuat hati manusia  terpengaruh menjadi romantis, terkadang bagi pribadi lain akan menyebabkan kelakuannya menjadi lebih beringas, sebagian lain menjadi murung.
Burung malam melenguh membuat suara giris bagi yang mendengar dengan hati dan pikiran yang kalut dan ketakutan, namun bagi yang sedang gembira, suara itu bagaikan nyanyian malam pengantar tidur. Sementara serigala pemukim hutan sekeliling Tegal Kurukasetra menggonggong dengan suara pnjang membuat bulu roma berdiri, gerombolan liar itu tengah mengendus, kapan kiranya suasana menjadi aman bagi mereka untuk memulai pesta pora.
Kembali fajar menyapa, segenap para prajurit dari kedua belah pihak kembali siaga dengan senjata ditangan. Jumlah barisan yang semakin menyusut tidak menjadi alasan bagi mereka berkecil hati. Bahkan mereka bangga menjadi prajurit linuwih yang mampu melewati hari-hari panjang dan sulit mengatasi musuh hingga saat ini, ternyata nyawa mereka masih tetap mengait pada raga.
Dewi Amba
Bende beri bersuara mengungkung, bersambut seruling yang ditiup dengan irama pembangkit semangat dan ditingkah suara tambur bertalu berdentam menggetarkan dada, berirama senada detak jantung yang mulai terpacu.
Pada malam sebelumnya juga sudah digelar sidang di pesanggrahan Randuwatangan atau Hupalawiya. Garuda Nglayang, gelar sebelumnya yang ditiru oleh prajurit Astina  masih tetap dipertahankan. Prabu Kresna yang sudah paham dengan apa yang harus dilakukan setelah bertemu dengan Resi Bisma hari kemarin, masih menyimpan Wara Srikandi dibarisan tengah, yang sewaktu waktu dipanggil untuk mengatasi kroda sang Dewabrata.
Sedangkan Drestajumna, adik Wara Srikandi, menjadi senapati utama. Drestajumna, putra Prabu Drupada, dengan tameng baja menyatu didada sejak lahir sebagai manusia yang dipuja dari kesaktian ayahnya, ditakdirkan menjadi prajurit trengginas sesuai dengan perawakannya yang langsing sentosa.
Kembali hujan panah dari Resi Bisma bagai mengucur dari langit. Segera Arjuna melindungi barisan dengan melepas panah pemunah. Bertemunya ribuan anak panah diangkasa bagaikan gemeratak hujan deras menimpa hutan jati kering diakhir musim kemarau panjang.
Bertemunya kedua barisan besar dengan formasi yang sama campuh satu sama lain terdengar seperti bertemunya gelombang samudra menerpa tebing laut. Gemuruh mengerikan.
Pedang kembali ketemu pedang atau pedang itu menerpa tameng. Dentangnya memekakkan telinga dibarengi dengan berkeradap bunga api yang semakin membakar semangat. Kembali teriakan kemenangan mengatasi lawan bercampur teriakan kesakitan prajurit yang roboh sebagai pecundang.
Disisi lain, Werkudara dengan gada besar Rujakpolo yang tetap melekat di genggaman tangannya yang kokoh, menyapu prajurit yang mencoba menghadang gerakannya. Gemeretak tubuh patah dan remuk membuat giris prajurit kecil hati, membuat gerakan Sang Bima makin masuk kedalam barisan Kurawa. Bantuan dari Setyaki yang sama-sama mempertontonkan cara mengerikan dalam membantai musuh dengan gada Wesikuning, membuat kalang kabut barisan sayap itu. Tak terhitung banyaknya korban prajurit dan adik-adik Prabu Duryudana seperti Durmuka, Citrawarman, Kanabayu, Jayawikatha, Subahu dan banyak lagi. Bahkan kuda dan gajah tunggangan bergelimpangan. Juga kereta perang  yang remuk tersabet gada kedua satria yang mengamuk dengan kekuatan tenaga yang menakjubkan.
Bubarlah sayap kiri yang dihuni pendamping Prabu Salya, seperti Resi Krepa, Adipati Karna dan Kartamarma serta Jayadrata. Mereka terdesak ke sayap kanan mengungsi dibelakang sayap seberang yang masih terlindung oleh Sang Resi Bisma.
Waspada Sang Bisma dengan keadaan ini, kembali panah sakti neracabala dikaitkan pada busurnya, mengalirlah ribuan anak panah yang menghalangi laju serangan. Bahkan Bima dibidik dengan panah sakti Cucukdandang yang mengakhiri krida Resi Seta sebagai senapati Pandawa.
Oleh kehendak dewata, Werkudara tidak terluka dengan hantaman panah sakti itu tetapi rasa kesakitan hantaman anak panah itu menyebabkan mundurnya serangan bergelombang yang sedari tadi sulit untuk ditahan.
Kali ini Sri Kresna tidak lagi menunda korban yang berjatuhan.
“Yayi Wara Srikandi, sekarang tiba saatnya bagimu untuk menyumbangkan jasa bagi kemenangan Pandawa. Kemarilah sebentar!” Prabu Kresna melambaikan tangannya kearah Wara Srikandi untuk berdiri lebih mendekat.
Apa yang harus aku lakukan Kakang Prabu?!” Srikandi maju mendekat dengan segenap pertanyaan bergulung dibenaknya.
“Sekarang sudah tiba waktu bagimu untuk mengantar Eyang Bisma menuju peristirahatannya yang terakhir”Prabu Kresna mengawali penjelasannya.
“Apakah adikmu yang perempuan ini mampu mengatasi kesaktian Eyang Bisma . . .?! Sedangkan prajurit lelaki dengan otot bebayu yang lebih sentosa tak mampu untuk membuat kulit Eyang Bisma tergores sedikitpun..!”
“Nanti dulu, akan aku jelaskan masalahnya. . . . . !”Tersenyum Prabu Kresna melihat kebimbangan dalam hati Wara Srikandi.
Sambungnya  sambil memancing ingatan Wara Srikandi yang pernah diceritakan oleh suaminya, Arjuna, “Mungkin yayi Srikandi sudah mendengan cerita asmara tak sampai dari Dewi Amba ketika Eyang Bisma masih bernama Dewabrata ?!”

Aku tahu, tapi apa hubungannya dengan adikmu ini?! Apakah aku yang diharapkan dapat menjadi sarana bagi Dewi Amba untuk menjemput Eyang Dewabrata?”
“Nah, ternyata otakmu masih encer seperti dulu !”Prabu Kresna masih sambil tertawa mendengar jawaban dari madu adiknya, Subadra.
Tersipu Wara Srikandi dengan pujian yang dilontarkan oleh kakak iparnya. Hatinya menjadi sumringah oleh harapan dapat mengatasi kesulitan yang tengah dialami oleh keluarga suaminya, Arjuna.
Arjuna yang dari tadi ada juga didekatnya juga tersenyum lega. Segera dipegang lengan istrinya dan mengajakanya dengan lembut “ Ayolah istriku, jangan lagi membuang waktu, kasihan para prajurit yang rusak binasa oleh amukan Eyang Bisma.”
Segera Wara Srikandi digandeng Arjuna naik kereta perang.

*******
Diceriterakan, arwah sang Dewi Amba yang masih menunggu saat untuk menjemput kekasih hatinya, segera menyatu dalam panah Wara Srikandi, Sarotama, pinjaman sang suami. Kegembiraan sang Amba teramat sangat. Cinta Dewi Amba yang terhalang oleh hukum dunia, sebentar lagi sirna, berganti dengan cinta abadi di alam kelanggengan.
Resi Bisma ketika melihat majunya Wara Srikandi ke medan pertempuran tersenyum. Dalam hatinya mengatakan -“Inilah saatnya bagiku untuk bertemu dengan cinta sejatiku Dewi Amba sekaligus mengakhiri do’a ibundaku”. 
Memang benar kata hati Resi Bisma, bahwa Dewabrata waku itu dimintakan kepada Dewa oleh Dewi Durgandini dapat menjadi orang yang berumur panjang dan tidak mudah dikalahkan bila bertemu musuh, sebagai pengganti atas pengorbanannya tidak mengusik keturunan ayahnya dengan Dewi Durgandini.
Permintaan ini juga sudah dibuktikan ketika Dewabrata bertemu sang guru sakti Rama Parasu. Ketika itu Dewabrata dicoba ilmu kesaktiannya oleh sang guru sambil dengan diam-diam mengajarkan dan menurunkan ilmu kesaktian selama berbulan-bulan tanpa henti.
Seketika sang Jahnawisuta menarik nafas panjang sambil memejamkan mata. Dalam benaknya bergulung-gulung peristiwa masa lalu bagiakan gambar-gambar yang diputar ulang bingkai demi bingkai, menjadikannya seakan-akan peristiwa perjalanan hidupnya itu baru saja terjadi.
Ketika membuka matanya kembali, didepan matanya Wara Srikandi dengan senyum mengambang di bibirnya sudah dalam jarak ideal untuk melepas anak panah. Berdebar gemuruh jantung Dewabrata ketika melihat wajah Srikandi bagai senyum kekasih hatinya, Dewi amba. Tak pelak lagi, kekuatan sang Dewabrata bagaikan dilolosi otot bebayu dalam raganya. Memang demikian, ketika panah Sarutama yang tergenggam ditangan Srikandi, seketika perbawa Dewi Amba seakan melekat pada raganya. Tiada salahlah pandangan Resi Bisma saat ini.
Maka ketika panah sakti melesat dari busur dalam genggaman Dewi Wara Srikandi, maka terpejamlah matanya, seakan pasrah tangannya digandeng oleh Dewi Amba.
Titis bidikan Srikandi yang terkenal sebagai murid terkasih olah senjata panah Sang Arjuna. Terkena dada Sang Resi panah Sarotama menembus jantungnya, rebah seketika di tanah berdebu Padang Kurusetra.
Seketika itu juga perang berhenti tanpa diberi aba-aba. Prabu Duryudana dan Prabu Puntadewa seketika berlari sambil mengajak adik adik mereka masing-masing, menyongsong raga sang senapati yang rebah ditanah basah tergenang merah darah yang membuncah.
Kedua belah pihak seakan melupakan permusuhan sejenak, karena kedua raja ini memangku bersama raga pepunden mereka.

*****
“ Duryudana, Puntadewa, sudah cukup kiranya perjalanan hidupku ini. Lega rasa dalam dada ketika kamu berdua datang pada saat bersamaan menyongsong raga rapuh, melupakan segala permusuhan dan peperangan menjadi terhenti. . . .”tersendat dan gemetar suara Resi Bisma kepada kedua cucu trah Barata.
“ Terimakasihku kepada kalian berdua yang telah datang menyongsong aku dan mendukung ragaku ini. Perlakuanmu berdua adalah tanda bakti yang tak terhingga kepadaku”. Sambil sesekai nafasnya tersengal ia melanjutkan, “Kalian berdua ada pada jalanmu masing-masing, teruskanlah peperangan ini, untuk membuktikan pendapat diri siapa yang benar dalam peristiwa ini”.
Terdiam kedua pihak dengan pikiran menggelayut pada benak masing masing. Seakan tanpa sadar mereka berdua mendekap raga eyangnya dengan erat.“Lepaskan sejenak ragaku ini ngger, eyang mau berbaring”. Akhirnya mereka tersadar atas permintaan Resi Bisma kali ini.
“Dursasana, ambilkan bantal untuk eyangmu !!”perintah Prabu Duryudana gemetar.
Seketika Dursasana pergi dan kembali dengan bantal putih bersih ditangannya.
Kecewa Prabu Duryudana ketika Bisma berkata“Bukan itu ngger yang aku mau . . . Aku menghendaki bantal layaknya seorang prajurit di medan perang”.
Kali ini Werkudara yang juga berdiri disisi raga eyangnya segera melompat tanpa diperintah. Ketika kembali ditangannya tergenggan beberapa potong gada patah dan pecah. Disorongkan barang barang itu ke bawah kepala sang resi.
Tersenyum Bisma merasa puas, “Nah beginilah seharusnya bantal seorang prajurit . . . .!”
Melotot jengkel Prabu Duryudana kepada Werkudara dengan pandangan kurang senang.
Nafas satu demi satu mengalir dari hidung sang Resi Bisma, sebenar bentar wajahnya menyeringai menahan sakit didadanya. Darah yang masih mengalir dari dadanya membuat cairan tubuhnya berkurang. Sekarang yang terasa adalah haus yang tak tertahankan. Terpatah patah perintah Sang Resi kepada cucu-cucunya, “Kerongkonganku kering, tolong aku diberi minum walau hanya setetes”.
Melompat Prabu Duryudana tak hendak tertinggal langkah. Segera kembali kehadapan sang Senapati sepuh yang sedang meregang nyawa, dibawanya secawan anggur merah segar.
“Eyang pasti akan hilang rasa hausnya kalau mau merasakan anggur mewah kerajaan”. Bangga Prabu Duryudana bersujud dihadapan eyangnya hendak meneteskan minuman.
Sekali lagi kekecewaan Duryudana terpancar dari wajahnya ketika Resi Bisma kembali menolak pemberiannya.
Habis kesabaran dua kali ditolak pemberiannya, dengan sugal ia memerintahka kepada adik adiknya untuk meninggalkan raga sang resi dengan suara lantang, “Dursasana, Kartamarma, Citraksa dan kalian semua!! Tinggalkan orang tua yang sedang sekarat itu!! Tidak ada guna lagi kalian menunggu hingga ajalnya tiba.! Ayo semua kembali ke pakuwon masing masing . . . !”
Prabu Kresna yang sedari tadi juga berada di tempat kejadian, segera membisikan sesuatu kepada Raden Arjuna, “Yayi, celupkan ujung anak panahmu Pasupati ke wadah kecil berisi air minum kuda perang, berikan kepada Eyangmu”.
Tanpa sepatah kata bantahan, Arjuna mematuhi perintah kakak iparnya. Dipersembahkan air minum itu kepada Resi Bisma yang tersenyum meneguk air pemberian cucunya itu. Senyum untuk terakhir kali.
Kidung layu-layu berkumandang. Sementara itu, taburan bunga sorga para bidadari dari langit, mengalir bagaikan banjaran sari wewangian, mengantar kepergian satria pinandita sakti berhati bersih. Ia telah menjalani hidup dengan cara brahmacari, tidak akan menyentuh perempuan, demi kebahagiaan ayah dan ibunda tercintanya. Perjalanan hidup yang kontradiktif dengan jiwa yang bersemayam dalam raga yang berumur panjang. Sekarang segalanya telah berakhir dengan senyum.

Bergandeng tangan dengan kekasih yang sangat memujanya selama ini, kekasih yang dengan sabar menanti kapan kiranya dapat bersatu tanpa halangan dari hukum dunia yang selama ini mengungkung mereka berdua, Dewi Amba dan Raden Dewabrata, hingga mereka berdua tak mampu bersatu didunia. Sekaranglah saat bahagia itu menjelang.

0 komentar:

Cakupan

1 Jutaan 2 Jutaan 22 Cakepan Komplit Wangsalan Sinden 3 Handphone Termahal Di Dunia 3 Jutaan 3 Smartphone 2017 New Dari SAMSUNG 3 SMARTPHONE TERMURAH 2017 4G LTE 3 SUREFIRE STEPS PUT THE AD CODE TO FLY 3 Toyota Products Expensive In Indonesia 3G 4 Jutaan 4 TINDAKAN PENYEBAB ANAK MENJADI PEMBOHONG Acer Advan Aku Ewa Alamat Service Center ALL NEW FREED Produk HONDA JEPANG 2017 Amerika Serikat Android Android Jelly Bean Aplikasi Apple Apple iPhone Apple iPhone 6S Apple iPhone 8 Release This Year Apple Watch Arjuna art ASUS ASUS AKAN RILIS SMARTPHONE BARU Asus Zenfone Atasi Kejang Otot Kaki avatar Award Baladev Bank Online Xiaomi Barrack Obama Berita Teknologi bhisma bima BlackMarket Blogger Blogspot Bogor budaya Budaya Jawa Budaya Jawa Warisan Leluhur Budaya Nginang /Nyirih Budaya Ruwatan budayajawawarisanleluhur Budhalan Lancaran Wrahatbala Kaseling Ladrang Samiran Laras Slendro Pathet Manyura Cakepan ( LIRIK) dan Notasi Lelagon Lancaran Simpang Lima Laras Pelog Pathet Nem Candi Cetho Cara Atasi Muntaber Cara Tradisional Penyakit Maag Cerita Sesaji Rajasuya Corolla dan Prius Hadir Di India Cubot dalang Dara Muluk Daydream Developer DHAYOHE TEKA Donald Trump Ducati will produce 50 Models In 2017-2020 Ekosistem Elephone S8 Will Release in 2017 ELING ELING PASEMON Ldr. Pl. 6 Facebook FERRARI F40 DIJUAL 13 MILIYAR Fitbit Gadget Game gamelan Gatal – Gatal (Pruritus) Gendhing Beksan Srimpi Ganda Kusuma Gonorhoe Google Hacker Handphone Lte Murah Infinix Hot 3 LTE X553 Harapan Penderita HIV AIDS Hardware Harga Harga Handphone Harga Handphone Android Harga HP Harga Smartphone Harga Smartphone Samsung HEALTY HERBAL Herbal Medications For Rheumatic Honor Huawei Huawei Mate 9 indonesia Indosat Info Seputar Kangker Info Teknologi INFORMASI INI DIA SI JENIUS SANGKUNI INI LAH TOKOH UTAMA DALAM PEWAYANGAN YANG MENJADI MOTIVASI PARA WANITA inspirasi Instagram Intel Internet iPhone Jadwal MotorGp 2017 Jakarta jazz Jineman Mendes Slendro Sanga (Cakepan dan Foto Notasi) Kamera 5MP Kamera DSLR KARAPAN SAPI MADURA Karya Anak Bangsa Kawasaki Lahirkan Ninja H2 Dan H2R Kesempatan Kerja Khasiat Kacang Adas Kisah Nyata Komputer Komputer Super Cepat Jepang KORBAN NISSAN NAVARA YANG PATAH TULANG BERUSIA 50 TAHUN Kreatifitas Unik Dan Jahil Anak Sekolah Krishna kurava Ladrang Kagok Semarang ( Notasi Dan Cakepan lakon Lancaran Ayun Ayun Tanjung Gunung Pelog Pathet Nem (cakepan dan foto notasi ) Lancaran GAMBUH Laras Pelog Pathet Nem Lancaran GAMBUH PANGATAG Lancaran Pelog Pathet Lima Lancaran GANDRUNG MANGU Laras Slendro Pathet Manyura Lancaran GOYANG SEMARANG Lancaran GUDHEG YOGYA Laras Pelog Pathet Lima Lancaran IRIS IRISAN TELA Lancaran KENDANG SEMARANG Lancaran KEPLOK AWE AWE Lancaran KUDA NYONGKLANG Lancaran LESUNG JUMENGGLUNG Lancaran LUMBUNG DESA Lancaran MAESA KURDA Lancaran MANGRO TINGAL Lancaran MANUK Lancaran Mikat Manuk Lancaran Mulya (KABE) Laras Slendro Pathet Sanga Lancaran Slendro Pathet Sanga Lancaran Slendro Pathet Sanga (lirik/Cakepan dan Foto Notasi) Lancaran Slendro pt. Manyura Langgam Ali - ali ( Cakepan dan Foto Notasi ) Langgam Caping Gunung ( Cakepan/ Lirik dan Foto Notasi ) Laptop Laras Pelog Pathet Barang Laras Pelog Pathet Nem Laras Slendro Pathet Manyura Laras Slendro Pathet Sanga Ldr. Dirgahayu Minggah Ktw. Pamuji dawah Lancaran Dolan Menyang Solo Pathet Slendro Manyura Leagoo LeEco Akan Rilis LeEco Dual 3 Tahun 2017 Legend Lenovo LG LG PJ9 Speaker Melayang 2017 Logika Teknologi mahabarata Masalah Mata Merah Masalah Rambut Melegakan Perut Menambah Nafsu Makan Mencegah Penyakit Liver Mencegah Reumatik Mencuci Luka Berdarah Mengatasi Amandel Mengatasi Batuk Mengatasi Demam Mengatasi Diare Mengatasi Disentri Mengatasi Influenza Mengatasi Jerawat Mengatasi Kencing Batu Mengatasi Keputihan Mengatasi Masalah Gusi Mengatasi Masalah Kulit Mengatasi Mulas Mengatasi Pencernakan yang Terganggu Mengatasi Pendarahan Rahim Secara Alami Mengatasi Rambut Rontok Mengatasi Sakit Pinggang Mengatasi Wasir Berdarah Menghilangkan Rasa Dingin Menghilangkan Rasa Lelah Mengobati Bibir Sariawan Menjadikan Suara Merdu Menurunkan Asam Urat Menurunkan Tekanan Darah Tinggi Meredakan Nyeri Sendi Mitsubihi Terjunkan Low MPV Tahun 2017 Motorola Musik Muslim Dilarang Masuk Amerika Naskah Pagelaran Wayang Lakon Anoman Duta New Action Movie The Fate of the Furious (Fast 8) Rilis 14 April 2017 New Nissan Serena Muncul Dengan Desain Sporty New Nokia Products Nintendo Nintendo Switch Nokia NOKIA 3310 AKAN RILIS BERSAMA ANDROID 3 Norma Jawa Notasi Dan Cakepan ( LIRIK ) Ladrang Ondhe - Ondhe Semarangan Pl. Br Ciptaan Ki Narto Sabdo Notasi dan Cakepan ( LIRIK ) Ladrang Pariwisata Bablas Lancaran Mbok Ya Mesem Notasi dan Cakepan (Lirik)Kaduk Rena Ketawang Slendro Sanga Notasi Gerongan Ladrang Sumyar Ladrang Laras Pelogl Pathet Barang Irama Tanggung Obat Rambut Rontok Oppo OTOMOTIF OTOMOTIF TOYOTA YARIS TERBARU 2017 Overcome Hair Loss Overcome Performance Slow Android Smartphone Panasonic pandawa Pembelajaran Penerapan Perang Gagal PERANG KEMBANG Pioneer Figure Of Campursari Ponsel Pulogadung puppet puppet java Quad Core Ransomware Realme Resep Makanan Review Sains dan Teknologi Sakit Kencing Nanag Sakit Kencing Nanah Samsung SANG SINDHEN MAESTRO NYI H.j SUPADMININGTYAS Sastra Search Engine Sejarah Kethoprak Sejarah Nama Buaya Hingga Menjadi Innova SENI sesaji Setyaki Lahir ( Balungan Lakon Bahasa Indonesia ) Seven Surefire Way Save Battery Life With Android Skuter NIU N1S Civic Smart City SMARTPHONE MURAH RAM 4 GB ASUS ZENFONE 2 ZE551ML Smartphone Produk Baru Dari LG Snapchat Software Sony Xperia Sony Xperia XZ 2017 Sosial Media Spesifikasi dan Harga APPLE IPHONE 5 C Spesifikasi Samsung SPESIFIKASI XIAOMI MI NOTE PRO Star Wars Menjadi Tema Smartphone Sharp Sukabumi Super Mario Tablet Tahun 2017 Xiaomi Hadirkan Mi7 Teknik Sabet Wayang TEKNOLOGI Teknologi Informasi Telkom Indonesia Telkomsel TENOLOGI Tentang Mifi Andromax M3z Tetap Langsing Setelah Melahirkan The Ancient Book Of The Beginning Shape Of Tembang ( Kakawin ) Tips Tips and Tricks Tips and Trik Traditional Medicine Ulcer Disease Treat A Swollen Tonsils Tugas MTI Tutorial Twitter Type Of Story Puppet ( Wayang Kulit ) Unique Smartlet 2017 visnu Vivo Wawancara wayang wisnu Xiaomi Yahoo Yamaha Youtube yudhistira